Kelangkaan Air dan Akses Air Minum Aman di Balik Bukit, Desa Songan, Kintamani, Bali

Pemandangan Gunung Batur dan Desa Songan dari Kawasan Balik Bukit

Rata-rata, seorang turis di Bali yang menginap di hotel bintang 4 hingga 5 akan mengonsumsi sekitar 300 liter air per hari. Sebagai perbandingan, masyarakat desa Songan, Kintamani (Bali Utara), tidak punya pilihan selain menggunakan kurang dari 30 liter per hari. Itu sepersepuluh dari yang digunakan turis. Bagi mereka, air bersih bukanlah sesuatu yang bisa didapatkan hanya dengan memutar keran. Selama tiga bulan setiap tahun, mereka bergantung pada hujan untuk penyimpanan air, bertani untuk penghasilan, dan berhemat dalam pengeluaran air. Sebagian besar desa memiliki "tangki" penyimpanan air hujan yang dibangun di dalam rumah mereka. Dan ketika musim kemarau tiba, tangki ini pun cenderung mengering.

 

Kondisi Penampungan Air Hujan di sebagian besar rumah keluarga Balik Bukit

 

Songan, sayangnya, adalah salah satu daerah yang sangat terpengaruh oleh ketersediaan air yang rendah. Saat musim hujan berakhir, mereka terpaksa kembali hidup miskin, menghabiskan sebagian besar penghasilan mereka untuk air. Di Songan, musim kemarau berarti menempuh perjalanan 8 km ke sumber air terdekat dan dikenai biaya Rp150.000 per jam untuk mengambil air bagi keluarga Anda. Biaya dimulai begitu keran dibuka dan berlanjut terlepas dari adanya pipa bocor. Di salah satu area desa, kami mengetahui ada sekitar 400 keluarga, jadi tidak dijamin bahwa sebuah keluarga akan mendapatkan keran lebih dari satu jam setiap beberapa hari, karena mereka harus mengikuti sistem rotasi dengan yang lain. Masalah kelangkaan air ini sendiri telah menyita banyak waktu dan tenaga keluarga-keluarga ini, yang memengaruhi cara mereka mengolah air sebelum meminumnya.

 

Ibu Dewi dan putrinya Nita, mengambil air hujan dari tangki untuk konsumsi sehari-hari.

 

Setelah mengumpulkan air ini, keluarga masih harus merebus air untuk membersihkannya dari bakteri berbahaya. Ini menimbulkan masalah lain. Pertama, 80% penduduk Songan tidak merebus air minum mereka dan hanya akan merebusnya untuk teh atau kopi. Tidak semua keluarga dididik tentang cara merebus air dengan benar untuk berhasil menghindari penyakit yang ditularkan melalui air. Menurut Kementerian Kesehatan, 60% keluarga yang merebus air tidak merebusnya cukup lama untuk membunuh bakteri dan parasit berbahaya yang berkontribusi terhadap lebih dari 10% kematian anak di Indonesia. Kedua, sebuah keluarga sekarang tidak hanya harus mengeluarkan uang untuk air, tetapi juga untuk gas yang dibutuhkan untuk merebus air tersebut di kompor. Terakhir, keluarga yang bahkan tidak memiliki kompor harus menghabiskan waktu mereka untuk mengumpulkan kayu bakar. Air bersih adalah hak asasi manusia dan setiap hari penduduk Songan mempertaruhkan kesehatan mereka untuk bertahan hidup.

 

Ibu Dewi merebus air hujan di dapurnya.

 

Penyaring Air Alami untuk Semua

Keluarga-keluarga di Songan tidak hanya membutuhkan akses air, tetapi juga membutuhkan akses air yang aman, dan mereka membutuhkan solusi yang menghemat waktu dan biaya. Kerja Bakti dan Terra Water telah bekerja sama untuk Proyek Air Songan, sebuah proyek multi-fase untuk mendukung keluarga di Desa Songan dengan solusi yang mudah digunakan, terjangkau, dan yang terpenting sesuai dengan budaya untuk membantu mereka mendapatkan akses air minum yang aman!